Selasa, 22 April 2025

Jejak G30S/PKI dalam Ingatan Publik: Masihkah Jadi Alat Represi Politik?

Meski sudah berlalu puluhan tahun, G30S/PKI masih kerap dijadikan alat politik untuk membungkam suara kritis dan gerakan akar rumput.

Jakarta, 22 April 2025 — Lebih dari setengah abad setelah peristiwa G30S/PKI, narasi yang menempatkan Partai Komunis Indonesia sebagai pelaku utama masih menjadi versi paling dikenal masyarakat. Cerita itu diperkuat lewat film “Pengkhianatan G30S/PKI” yang sejak era Orde Baru rutin diputar di sekolah dan lembaga pemerintahan. Dalam film itu, PKI digambarkan kejam, tidak berperikemanusiaan, dan anti-agama. Gambaran tersebut membentuk ketakutan yang menyebar luas dan sulit dihapuskan dari ingatan kolektif bangsa.

Pasca tragedi 1965, tindakan penindasan terhadap orang-orang yang dianggap terkait PKI dilakukan secara besar-besaran. Banyak yang ditangkap, dipenjara bertahun-tahun tanpa pengadilan, bahkan dibunuh secara diam-diam. Pemerintah saat itu juga membatasi pemberitaan dan membentuk sejarah versi tunggal, yang mematikan ruang bagi perbedaan pandangan. Hingga kini, bayangan masa itu masih membekas dan menjadi bagian dari cara negara mengatur ingatan warganya.

Di masa sekarang, cap “komunis” masih digunakan untuk menyerang kelompok tertentu, terutama mereka yang terlibat dalam gerakan petani atau pembela hak agraria. Meski tak berhubungan dengan ideologi kiri secara langsung, mereka kerap dilabeli sebagai ancaman. Penggunaan narasi G30S/PKI sebagai alat politik masih sering terjadi untuk membungkam suara-suara yang dianggap mengganggu kepentingan penguasa.

Meskipun reformasi telah lama berjalan, pembacaan sejarah G30S/PKI secara lebih luas dan adil masih sulit dilakukan. Ketakutan dan stigma masa lalu masih kuat menempel. Padahal, membuka kembali peristiwa ini secara jujur dan terbuka penting agar generasi sekarang bisa belajar dari sejarah secara utuh. Jika tidak, ingatan kolektif kita akan terus dikendalikan oleh kepentingan politik yang menolak perubahan.

Narasi G30S/PKI bukan sekadar kisah masa lalu. Ia adalah alat yang masih digunakan untuk menekan, membungkam, dan menakut-nakuti—terutama saat suara rakyat mulai bersuara lebih lantang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pemuda dan Api yang Tak Pernah Padam

Patung Pemuda Membangun terletak di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, tidak jauh dari pusat aktivitas olahraga nasional. Patung ini menampil...