Jakarta — Sekitar 200 ribu buruh dari berbagai wilayah memadati kawasan Monas, Jakarta Pusat, dalam peringatan Hari Buruh Internasional 2025. Aksi besar ini diselenggarakan oleh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) bersama Partai Buruh sebagai bentuk penyampaian aspirasi para pekerja terhadap pemerintah.
Enam isu utama menjadi sorotan dalam aksi tersebut. Di antaranya adalah penolakan terhadap sistem kerja outsourcing, dorongan untuk menaikkan upah minimum secara adil, pembentukan satuan tugas khusus untuk menangani pemutusan hubungan kerja (PHK), serta desakan agar Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) segera disahkan. Selain itu, massa juga menuntut pengesahan RUU Perampasan Aset dan pencabutan Undang-Undang Cipta Kerja yang dianggap merugikan buruh.
Selama aksi berlangsung, suasana tetap terkendali. Massa bergerak secara terorganisir, membawa spanduk dan mengenakan seragam dari berbagai serikat buruh. Kehadiran Presiden Prabowo Subianto yang menyampaikan pidato di tengah aksi menjadi sorotan tersendiri, menandai momen di mana tuntutan buruh mendapat perhatian dari pucuk pimpinan negara.
Aksi di Monas hanyalah satu dari rangkaian peringatan Hari Buruh yang digelar di berbagai kota lain. Namun, skala dan intensitas massa di Jakarta menjadikannya pusat perhatian. Para buruh datang tidak hanya untuk merayakan solidaritas, tetapi juga menyuarakan kegelisahan kolektif atas kondisi kerja yang belum sepenuhnya membaik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar