Selasa, 18 Maret 2025

Hari Tani Nasional: Kelompok Tani Hutan Kumbang Bangkitkan Pertanian Perkotaan di Jakarta

 

                       Foto: Dokumentasi Pribadi


KTH Kumbang memanfaatkan lahan tidur untuk pertanian berkelanjutan, menghasilkan sayur, buah, dan ikan dengan metode ramah lingkungan.

Jakarta, 17 Maret 2025 – Di tengah pesatnya urbanisasi di Jakarta, Kelompok Tani Hutan (KTH) Kumbang terus berjuang menghidupkan kembali pertanian perkotaan. Berlokasi di Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, kelompok ini mengelola lahan seluas 1,4 hektare untuk bertani secara mandiri dan berkelanjutan. Dalam peringatan Hari Tani Nasional tahun ini, mereka menyuarakan tantangan yang masih dihadapi serta harapan untuk pertanian yang lebih baik di ibu kota.

Kelompok Tani Hutan Kumbang mulai mengelola lahan tersebut sejak pandemi COVID-19, ketika Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta mengizinkan pemanfaatan lahan tidur. Dengan semangat gotong royong, mereka membangun sistem pertanian berkelanjutan yang mencakup pembibitan, pertanian sayuran dan buah, budidaya ikan, serta produksi pupuk organik.

“Kami ingin membuktikan bahwa pertanian masih bisa berkembang di Jakarta. Lahan ini dulunya tidak terpakai, tetapi kini sudah bisa menghasilkan panen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan lokal,” ujar Julio, salah satu anggota KTH Kumbang.

Sejumlah komoditas yang mereka tanam antara lain alpukat Cipedak, cabai, kangkung, singkong, serta budidaya ikan lele dan mujair. Mereka juga memanfaatkan limbah organik untuk membuat pupuk kompos dan pestisida alami, mengurangi ketergantungan pada bahan kimia.

Meskipun telah menunjukkan hasil yang positif, KTH Kumbang menghadapi berbagai kendala, terutama terkait keterbatasan lahan dan fluktuasi harga hasil pertanian.

“Kami hanya mengelola lahan pinjaman, tidak ada jaminan apakah bisa kami pakai dalam jangka panjang. Jika ingin pertanian perkotaan berkembang, pemerintah harus memberikan kepastian akses lahan bagi petani,” kata Siti Rohmah, salah satu petani di kelompok tersebut.

Selain itu, harga hasil panen sering kali tidak stabil. Saat panen melimpah, harga sayur dan buah bisa anjlok, membuat petani kesulitan mendapatkan keuntungan yang layak.

Menanggapi berbagai tantangan yang dihadapi, pemerintah DKI Jakarta melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (DKPKP) berjanji akan memberikan lebih banyak dukungan untuk pertanian perkotaan.

Selain dukungan pemerintah, KTH Kumbang juga berkolaborasi dengan komunitas lain, seperti Young Sayur dan Majelis Sayur, untuk memperluas pasar dan mengembangkan produk pertanian olahan.

“Kami ingin membangun ekosistem pertanian yang lebih kuat di kota ini. Bukan hanya menanam, tetapi juga mengolah hasil panen menjadi produk yang bernilai lebih tinggi,” jelas Julio.

Peringatan Hari Tani Nasional tahun ini menjadi momen refleksi bagi petani perkotaan seperti KTH Kumbang. Mereka berharap pertanian di Jakarta mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah, terutama dalam hal akses lahan, stabilitas harga, dan dukungan fasilitas.

Dengan kolaborasi yang kuat antara petani, komunitas, dan pemerintah, pertanian perkotaan berpotensi menjadi solusi bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat. KTH Kumbang telah membuktikan bahwa meskipun di tengah kota, pertanian tetap bisa berkembang dan berkontribusi bagi lingkungan dan ekonomi lokal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pemuda dan Api yang Tak Pernah Padam

Patung Pemuda Membangun terletak di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, tidak jauh dari pusat aktivitas olahraga nasional. Patung ini menampil...